My Rainbow Dreams

Just Blogger Templates

Sabtu, 01 Oktober 2011

Rajin VS Cerdas

Dulu aku lebih suka orang yang cerdas dari pada orang yang rajin. Karena menurutku kecerdasan adalah modal utama dan pertama untuk sebuah kesuksesan, apapun bentuknya. Tapi tidak untuk sekarang. Kalau di suruh milih, aku akan lebih memilih orang yang rajin tapi kecerdasan biasa-biasa aja. Dari pada orang cerdas yang nggak mau belajar dan hanya mengandalkan kecerdasannya dalam meraih suksesnya.

Humm…kalau orang cerdas juga rajin???
Ya élah…itu mah bukan pilihan. Semua orang ya maunya kayak gitu.

Mau bisa nyanyi, ya biasain nyanyi. Mau bisa masak, ya yang sering-sering masak. Mau bisa memahami sesuatu secara mendalam, sering-sering aja ngulang tuh sesuatu. Insyaallah, bakalan BISA dapet apa yang kamu inginkan.

Jadi inget kata Guruku…”Saya pernah membaca buku ini (Dengan menunjukkan buku yang di maksud) kurang lebih tujuh belas kali, dan tujuh belas kali juga saya mendapatkan ilmu/ pemahaman baru dari buku ini”.

Hah????…tujuh belas kali??? "org yang sudah kenal ma aku mungkin kanget, soalnya posting aja males2an apalagi baca buku sampai 17 kali" hehheee ups intermezo yah sobat...
Perasaan, aku kalau baca buku, tiga kaliiii aja, rasanya dah mual-mual. Lah ini, tujuh belas..
okey kita balik lagi ke pokok permasalahan...

intinya kita mendapatkan..
Ilmu baru di setiap baca???
Is that right??

Hmm…Statement itu ternyata benar. Contoh kecil, baca surah Al-fatihah tentunya nggak bisa sekali atau dua kali jika memang ingin benar-benar daqiq. Ilmu dan pemahaman baru pasti akan selalu muncul berkali-kali sebanyak kali kita membacanya. Karena di setiap sesuatu yang kita baca, makna yang tersirat lebih banyak dari yang tersurat.

Pernah juga loh aku lihat satu film yang aku ulangi sampe lebih dari lima kali. Nah, subhanallah…percaya atau nggak, setiap kali aku lihat tuh film, sebanyak itu pula aku dapet pemahaman baru dari jalan cerita itu (karena kebetulan tuh film emang nggak mudah di tebak, jadi nasyat deh nontonnya). Dari sini aku jadi inget dan langsung angguk kepala sama statemen guruku.

Atau ketika kita baca al-Qurán, kalam-Nya yang menyimpan makna yang begitu luas dan tanpa batas. Setiap kali baca, insyaallah akan ada aja makna yang muncul, yang membuat hati sedikit demi sedikit bergeser kembali ke tempat asalnya, Di tengah, tempat God spot itu ada.

Yah…Bisa memang karena biasa!!!
Benar yah kata Rasulullah…”Khairul umur adwamuha wa in qalla” . atau “Qul amantu billahi tsumastaqim”. Yah…intinya sih istiqamah getoh!!!

Nggak apa-apa kok sedikit demi sedikit. Yang penting istiqamah. Nanti juga bakal menjadi bukit. bukan "sedikit demi sedikit lama2 makin dikit" heeee kalo ini mah gak ada ilmu yang masuk...
Kalau otodidak??
Yuhuiii…it’s up to the man. Yang pasti, insyaallah aku bukan pengikut madzhab otodidak, kecuali terpaksa, ha3x. Sama aja ya???.

Nah…satu pelajaran lagi dari rajin.
Yaitu, menghargai sebuah proses. Menurut hasil surveyku dari beberapa temenku yang dah dapet stempel rajin dari aku (he3x). Setiap kali aku tanya kenapa mereka nggak bosen-bosennya belajar kesana-kemari, baca buku, atau ikutan diskusi-diskusi ilmiah. Banyak yang bilang, “karena saya belum bisa apa-apa”.

Subhanallah, padi semakin berisi semakin merunduk memang. Aku heran, padahal mereka jauh di atasku dalam hal keilmuan. Mereka sudah jauh berlari, aku masih baru mencoba untuk berdiri. Iseng ku bilang sama salah satu dari mereka, “kan Ani udah pinter dan udah pernah mempelajari ilmu ini, ngapain belajar lagi?”.
“ya, kan saya pengen tahu lebih dalam lagi tentang ilmu ini Eri. Selain itu mungkin cuma ini yang bisa saya lakukan sebagai bentuk rasa syukur saya atas karunia-Nya, menganugerahkan kesempatan emas untuk menuntu ilmu disini”, sambil tersenyum manis. Senyuman yang berhasil membuatku tak bisa berkutik lagi karena tertohok, hihihi.

Tapi yang aku sering heran.
Kebanyakan orang masih memandang:
* Orang yang nggak rajin / belajar, trus hasil yang di capai maksimal => Cerdas.
Yups…aku setuju dengan statemen itu. Itu berarti Allah memberikan satu kelebihan pada dia.

Tapi…
* Orang yang rajin terus hasil yang di capai juga maksimal => Owh, itu karena dia rajin.

Gitu deh jawabnya…

Awalnya sih, aku masih sempat nerima aja tuh statemen.
Aku yakin, dalam benak banyak orang Cerdas dan Rajin itu berbeda. Dan kebanyakan orang akan merasa lebih bangga di katakan cerdas dari pada rajin.

Tapi setelah aku lihat lagi. Tidak semua orang rajin yang mendapat hasil yang memuaskan, itu hanya di sebabkan oleh kerajinannya aja. Faktor kecerdasannya pun mempunya porsi cukup besar.

So…aku menyimpulkan, orang rajin bukan berarti tidak lebih cerdas dari orang cerdas!. Karena aku melihat beberapa teman dekatku memang seperti itu. Dan itulah hamba yang baik, menurutku.

Whatever…sekali lagi itu hanya sebuah pandangan.
Jika ada sepuluh kepala, maka bisa jadi muncul sepuluh pandangan yang berbeda juga. Dan semuanya relatif, jika barometernya adalah akal manusia.

Hmm…
that’s all…

0 komentar:

Poskan Komentar