My Rainbow Dreams

Just Blogger Templates

Jumat, 21 Oktober 2011

Rajawali Yang Mati Sebagai Seekor Ayam

Saya suka cerita ini sejak saya masih kelas 3 SMP. Cerita ini pertama kali saya temukan dalam buku berjudul Burung Berkicau karya Anthony de Mello, SJ. Menurut banyak orang, beliau adalah seorang filsuf atau sufi yang kebetulan mungkin beragama Katholik. Anda bisa membaca banyak kisah-kisah menarik seputar seseorang bernama Nasrudin dari buku ini. Agama seharusnya tidak memisahkan kita semua kalau Anda percaya bahwa Tuhan masih mencintai manusia dan jika Anda cinta negeri Indonesia ini. Saya rasa di surga pun tidak ada agama. Mari saya mulai saja kisahnya sambil menemani Anda menyeruput secangkir kopi barangkali.


Suatu hari seorang anak kecil menemukan sebutir telur burung rajawali dalam perjalanannya pulang dari berladang. Karena bentuknya yang besar dan aneh, telur ini diberikan kepada ayahnya. Atas saran sang ayah, telur tersebut dierami oleh induk ayam yang kebetulan memang sedang mengerami telur. Hari lepas hari telur-telur yang dierami tersebut mulai menetas, termasuk juga telur burung rajawali ini. Anak rajawali ini terlahir dan diasuh oleh induk ayam. Otomatis dia belajar hidup sama seperti ayam. Manusia juga akan begitu. Jika Anda diadopsi orang bule otomatis dari kecil Anda akan belajar budaya di sana seperti makan roti keju tanpa kenal nasi. Begitu juga dengan anak rajawali ini. Mengais-ngais sampah, mematuk-matuk batu sambil mencari cacing, itulah kegiatannya sehari-hari.

Waktu berlalu, hari berganti. Sekarang mereka sudah menginjak usia remaja. Tubuhnya bertambah besar dan tampak berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain yang memang adalah anak ayam. Suatu ketika, saat mereka berkumpul dan bermain di padang rumput, anak rajawali ini melihat ke atas langit. Tampak sosok-sosok hitam besar beterbangan gagah sekali. Hatinya bergejolak, pikirannya tertantang. Dia merasa bahwa dirinya bisa seperti burung-burung yang sedang mengangkasa di langit. Dikepak-kepak sayapnya seolah-olah ingin terbang. Lalu dirinya menghampiri salah seorang saudaranya.

Katanya, "Hei... coba lihat ke atas langit!" Saudaranya menatap ke langit.

"Coba kita perhatikan, bukankah enak seperti mereka? Bisa terbang kita. Aku ingin seperti mereka."
Saudaranya terdiam dan berkata, "Tapi tidaklah mungkin Saudaraku. Kita ini anak ayam, sedangkan mereka burung rajawali."

"Tapi aku yakin kita bisa," seru anak rajawali dengan penuh semangat!

"Huhhhh..." teriak saudara-saudaranya yang lain dengan serentak.

"Begini saja, coba kita tanyakan kepada Ibu. Semoga Ibu bisa memberikan jawaban buat kita," saran seekor anak ayam agar tidak terjadi perkelahian.

Sebagi junior yang bijak, akhirnya mereka sepakat menemui ibu mereka yang adalah induk ayam.

"Ibu, kata kakak kita ini, diri kita ini bisa terbang. Dan dia bilang dirinya bisa terbang seperti burung-burung rajawali di atas langit sana. Benarkah Ibu kita bisa terbang?"

Sang ibu terdiam cukup lama. Dibutuhkan jawaban bijaksana agar tidak mengecewakan anak-anaknya, namun juga harus logis. Akhirnya induk ayam ini berkata,

"Anak-anakku.. mempunyai impian itu tidaklah salah. Semua orang dari antara kita harus punya impian. Namun kita juga harus melihat kenyataan. Pada waktu ibu masih muda seperti kalian, juga pernah berpikir demikian. Kita punya sayap sama seperti mereka, jadi kita juga bisa terbang seperti mereka. Namun waktu membuktikan bahwa kita tidak bisa terbang seperti mereka. Kita paling juga terbang di atas pohon-pohon yang rendah dan akan kembali mendarat di tanah."

"Tapi Ibu… aku yakin aku bisa Ibu," sanggah si anak burung rajawali.

"Jangan mimpilah kau Saudaraku," teriak anak ayam lainnya.

"Benar, jangan mimpi! Dengarkan saja apa kata Ibu. Ibu lebih pengalaman," sahut anak ayam lainnya.

"Tapi..."

"Anakku, kemarilah…" pinta induk ayam kepada anak burung rajawali.

Sambil memeluk dirinya, sang Ibu berkata, "Benar anakku. Apa yang dikatakan saudara-saudaramu tadi. Kita ini terlahir sebagai anak ayam. Kita tidak bisa terbang seperti mereka. Apa yang kamu alami dan gumuli, waktu muda juga ibu alami."

Anak rajawali ini terdiam dan bersedih. Sejak saat itu tidak ada lagi keinginannya untuk terbang. Dan sampai akhir hidupnya dia mati sebagai seekor ayam.

Praakkkkk…! Sobat, apa yang Anda dapatkan dari cerita tersebut? Dari cerita ini ingin menunjukkan kepada kita bahwa ketidaktahuan akan berakibat buruk atau bernasib sama seperti lainnya. Mengikuti arus itu bisa sangat berbahaya jika kita tidak kritis! Itulah gunanya rajin belajar, sekolah, bergaul yang luas, menjadi pintar dan melancong ke luar negeri. Kita mestinya harus mencoba apa yang menurut kita bisa. Jika belum kita coba lalu sudah mengatakan tidak mungkin, tak ada bedanya dengan anak burung rajawali ini. Tragis sekali.

2 komentar:

Harun Ar mengatakan...

Mengubah pola pikir untuk maju memang sulit. Cerita2 seperti ini barangkali dapat dijadikan sebagai media ke arah itu.
Cerita yang menarik, mksh

Cantik itu indah mengatakan...

trimkasih sdh baca dan mengunjungi blog saya. :) Semoga kita tidak menjadi Rajawali yg mati sebagai seekor ayam.

Poskan Komentar