My Rainbow Dreams

Just Blogger Templates

Senin, 08 Agustus 2011

8 TIPE DOSEN DAN CARA MENGHADAPINYA


Sebelumnya saya minta maaf apabila tulisan ini ada pihak yang merasa dirugikan. Artikel ini bertujuan positif untuk para mahasiswa. Sehingga mereka bisa memahami benar sifat dosennya, agar mereka bisa menempatkan diri dengan baik di hadapan dosennya. Sebenarnya kita nggak perlu takut dengan dosen- seperti apapun tipenya (bukan berarti menantang, ya gak juga kale). Selama kita ingin mencari ilmu, ada banyak dosen yang benar-benar baik yang mau membantu kita, kok...  selain itu, prestasi dan nilai kita yang baik dapat menjadi perisai (kaya mau perang aja) terhadap dosen yang ingin menjatuhkan.
Lagi pula jika kita menerima perlakuan tidak adil, kita selalu bisa melaporkan perbuatan dosen tersebut ke ketua jurusan atau pihak dekanat. Zaman sekarang, sudah hampir nggak ada lagi dosen-dosen tipe lama yang merasa paling benar dan berkuasa. Beliau-beliau justru sangat terbuka terhadap masukan dan mau berdikusi.Mungkin cerita ini pernah dialami oleh anda.
Rio malas banget masuk kelas hari selasa siang. Habis, Pak X, dosennya, sangat membosankan kalu mengajar- text book banget. Sudah dua kali Rio berturut-turut ditegur karena ketahuan mengantuk di kelasnya. Tapi kalau molos melulu, bagaimana nilai Rio ? berbeda dengan Rio, Romeo justru nggak suka kelas Bu P karena dia punya beberapa murid kesayangan, hingga yang lain merasa nggak dianggap. Jadi hadir atau nggak hadir, Romeo merasa sama saja.
Namanya juga manusia, dosen juga punya karakter tertentu yang menonjol dalam mengajar. Kalau kita tahu tipe dosen-dosen kita, nggak perlu pusing menghadiri kelas karena kita sudah tahu celah mengambil hatinya, dong.
1.   PENJAGA TIKET
Dosen ini senang mengecek tugas mahasiswa sebelum kuliah dimulai. Ibaratnya, mengerjakan tugas merupakan ’tiket’ masuk kelas. Jadi, kalau belum mengerjakan tugas, kita bakal disuruh keluar kelas dan baru boleh masuk setelah tuganya selesai.
Menghadapi tipe dosen seperti ini, sebenarnya,mudah saja. Asal kita selalu mengerjakan tugas sebelum kelas dimulai, maka kita bisa aman sampai lulus, tuh. Seharusnya, jadi motivasi kita juga, kan, untuk mengerjakan tugas kuliah.

2.   CURCOL (CURHAT COLONGAN)
Ada pula dosen yang senang bercerita. Hampir di setiap kuliahnya, sang dosen bakal berbagi tentang pengalaman hidupnya sambil membanding-bandingkan dengan konteks kuliah atau kehidupan sekarang. Selama masih nyambung dengan materi kuliah, sih, maklum aja. Tapi, ujung-ujungnya, sang dosen malah curcol.
Kalau dosen ini mulai kumat bercerita, kita bisa menginterupsi beliau dengan mengajukan pertanyaan yang menyangkut materi kuliah. Kalau nggak, dengarkan saja, siapa tahu kita bisa belajar sesuatu dari ceritanya. Nggak soal akademis melulu.

3.   MOTIVATOR
Nggak hanya Mario Teguh yang bisa jadi motivator, dosen pun juga bisa. Di setiap kuliah, dosen ini sering menyemangati mahasiswanya dan menjadikan kelas lebih ceria. Belum lagi, kalimat-kalimat atau quotes motivasi yang selalu dia bagikan di akhir kelas.
Sebenarnya, kita beruntung punya dosen yang bersemangat memberi ilmu seperti beliau. Suasana kelas jadi nggak membosankan dan ’hidup’. Tapi, biasanya, tipe dosen seperti ini, ujungnya , juga suka sok akrab. Kita berhak, kok, memberi batasan sendiri kalau memang nggak nyaman terlalu dekat dengan beliau.

4.   TEXT-BOOK BERJALAN
Dosen tipe ini, ilmu yang dimilikinya sebatas hafalan di buku kuliah. Umumnya, beliau juga nggak suka mahasiswa yang terlalu kritis bertanya alias jawabannya nggak ada dalam buku. Makanya, kalau mau ujian bagus, kita harus mati-matian menhafal diktat kuliah, kalau perlu sampai titik, komanya. he..he..
Susah-susah gampang memang menghadapi dosen begini. Kalau kita kuat dalam menghafa, sih, nggak jadi masalah. Hanya saja, dosen seperti ini, nih, yang nggak menjadikan mahasiswanya pandai (cuma menghafal). Tapi, kita boleh, kok, berdiskusi dengan dosen yang lain yang lebih terbuka untuk menambah masukan.

5.   MALAS NGAJAR
Setiap ikut kelasnya, kita cuma disuruh mencatat, merangkum, atau mengerjakan tugas. Selagi kita mencatat atau mengerjakan tugas, beliau cuma duduk dan sibuk menulis atau bermain ponsel dan entah ngapain. Parahnya, di jam mengajar, beliau juga suka meninggalkan kelas dan baru kembali saat menjelang kelas usai.
Kalau kita pemalas,sih, dapat dosen seperti ini, asyik banget ,iya kan. Tapi sadar nggak, artinya, kita membayar biaya kuliah dengan percuma untuk dosen tersebut. Makanya, kita berhak melaporkan sikap dosen ini kepada kepala jurusan kalau kelakuannya berkelanjutan terus.

6.   KRIUUK....
Dengan maksud mencairkan suasana, dosen ini senang membuat lelucon atau mempermalukan mahasiswanya. Leluconnya, sih, kadang-kadang lucu, tapi lebih sering ’garing’. Menghadiri kelas dosen seperti ini, lebih baik jangan pernah mengambil hati setiap leluconnya, apalagi kalau kita yang menjadi subjeknya.
Sikap dosen yang mempermalukan atau membuat mahasiswanya tidak nyaman bisa dikategorikan ke tahap bullying. Kalau sikapnya memang sudah keterlaluan dan menyinggung ’korban’, kita harus melaporkannya kepada pihak kampus sehingga tidak ada ’korban’ selanjutnya.

7.   PELIT NILAI
Masih ingat, kan, anekdot yang suka beredar dulu ”Nilai A hanya milik Tuhan”. Nah, dosen ini menganut anekdot tersebut. Makanya, dia sangat pelit memberi nilai dan menganggap semua mahasiswanya berada di bawah tingkat intelejensinya.
Biasanya, nih, dosen seperti ini punya mahasiswa kesayangan yang selalu lebih diperhatikan. Makanya, satu-satunya cara menghadapi dosen tipe ini adalah kita harus lebih cerdik. Maksudnya, kita harus bisa pandai-pandai mengambil hatinya dan menjadi anak kesayangannya. Salah satu caranya, banyak bertanya, tapi bukan untuk memojokan, dan banyak memuji.

8.   PENERIMA UPETI
Dosen tipe ini senang ’dimanjakan’ dengan hadiah dan upeti. Agak malas, sih, memang menghadapi dosen seperti ini. Kalau memang kita nggak kesulitan memberi, mungkin, dosen seperti ini bukanlah dosen yang sulit dihadapi, tapi kalau tidak ?
Selama prestasi akademis kita memeng baik-baik saja, nggak perlu khawatir dengan dosen ini. Nggak mungkin, kan, beliau memberi nilai yang menjatuhkan kalau nilai kita di mata kuliah lain baik-baik saja. Kalau memang merasa mampu mengikuti kuliahya, kita bisa menuntut bukti penilaiannya terhadap tugas kita.




Sumber:

0 komentar:

Poskan Komentar